Gerombolan Monyet Liar Kerap Turun ke Kebun Resahkan Petani Taput

Suasana hutan di Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara

SNT, TAPUT – Selama kurun waktu 2 tahun terakhir, warga petani di Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara diresahkan dengan gerombolan monyet liar yang kerap mendatangi perkebunan mereka.

Kondisi itu menurut warga membuat mereka merugi, karena sasaran gerombolan monyet yang turun dari hutan itu merusak dan memakan tanaman seperti kacang, jagung, pisang dan lainnya. Kondisi itu hampir merata terjadi di semua desa di Kecamatan Adian Koting. Para petani mengaku tak mampu menghalau gerombolan monyet tersebut karena jumlahnya banyak hingga mencapai puluhan ekor sekali turun.

Bacaan Lainnya

“Hampir tiap hari monyet tersebut turun dari hutan ke kebun kita dan ke kebun warga lainnya dengan bergerombol, merusak dan memakan tanaman kita. Jadi hampir habis lah semua tanaman di kebun membuat kita merugi,” kata Pujita Hutabarat.

“Cara yang kita lakukan selama ini berjaga jaga di kebun, itu pun kadang kita tak mampu mengusirnya karea jumlah monyetnya yang sekali turun banyak, terkadang pasrah lah kita,” jelasnya.

Kondisi itu menurut Pujita sudah berlangsung sekitar 2 tahun. Para petani tak tahu lagi bagaimana cara mengusir kawanan monyet liar yang datang bergerombol itu.

Menanggapi hal itu, Kepala Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Tarutung, Sumut, Manigor Lumbantoruan mengaku tak memiliki tips khusus untuk mengusir kawanan monyet yang dikeluhkan petani kebun di Kecamatan Adian Koting.

Menurut Manigor, salah satu cara adalah agar petani membunyikan petasan saat monyet datang. “Bisa dilakukan dengan cara itu,” ucapnya mengawali keterangannya. Kemudian lanjut Manigor, boleh dilakukan dengan cara menangkap raja monyet yang memimpin gerombolan monyet tersebut.

“Ditangkap, caranya dengan membuat jerat di hutan. Raja atau pimpinan monyetnya ditangkap tapi jangan dibunuh, kemudian setelah tertangkap raja monyetnya dipakaikan baju berwarna merah, diikat dibadannya dan kemudian dilepas. Mereka (gerombolan monyet) itu akan masuk ke hutan dan kemungkinan tidak akan datang lagi,” kata dia.

Memang diakui Manigor, tidak mudah untuk menangkap raja monyetnya kalau dilakukan secara manual. Tapi dengan cara membunuhnya, juga tidak dianjurkan karena tindakan demikian adalah menyalahi.

“Intinya raja monyetnya memang harus diamankan. Seperti tadi saya sampaikan setelah diamankan dipakaian baju warna merah diikat dibadannya. Karena memang raja monyetnya yang memimpin gerombolan monyet tersebut turun ke kebun masyarakat. Kalau sudah berhasil dilakukan demikian, mudah mudahan gerombolan monyet tersebut tidak turun lagi ke kebun masyarakat,” pungkasnya. (SNT)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *