WHO: China Harus Jujur soal Asal COVID-19

  • Whatsapp
Foto: Tedros Adhanom Ghebreyesus (FABRICE COFFRINI / POOL / AFP)
Foto: Tedros Adhanom Ghebreyesus (FABRICE COFFRINI / POOL / AFP)

SNT – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan, penelusuran asal usul COVID-19 terhambat lantaran data terkait awal mula penyebaran virus di China terbatas.

Disebutkan bahwa, China tidak kooperatif untuk mengungkap data ‘mentah’ terkait COVID-19.

Bacaan Lainnya

Untuk itu WHO meminta China untuk lebih transparan usai sebelumnya tim peneliti WHO sudah menghabiskan empat minggu di pusat kota Wuhan menelusuri asal muasal Corona. Mereka dengan para peneliti China merilis laporan awal di Maret lalu.

Hasil laporan yang terungkap ialah virus Corona mungkin ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara lainnya yang belum teridentifikasi. Sementara, kemungkinan virus ‘bocor’ dari laboratorium Wuhan kerap dikesampingkan.

Kemudian, tidak sedikit para ahli atau beberapa ilmuwan yang tak puas dengan hasil laporan WHO, termasuk pakar di Amerika Serikat.

“Kami meminta China untuk transparan dan terbuka dan bekerja sama,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers, Kamis (15/7/2021).

“Kami berutang kepada jutaan orang yang menderita dan jutaan orang yang meninggal untuk mengetahui apa yang terjadi,” katanya.

China, berulang kali menepis tudingan virus Corona bocor dari laboratorium Wuhan dan menganggap hal tersebut tak masuk akal.

Sementara Tedros disebut akan memproses penelitian asal usul COVID-19 kedua akan segera dilakukan, bersama 194 negara anggota WHO.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan rekan-rekan China kami dalam proses itu dan direktur jenderal akan menguraikan langkah-langkah untuk negara-negara anggota pada pertemuan besok, pada hari Jumat,” jelas pakar darurat utama WHO Mike Ryan, dikutip dari Reuters.

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn, yang mengadakan pembicaraan dengan Tedros pada hari Kamis, mendesak China untuk melakukan penyelidikan asal-usul COVID-19 berlanjut, karena menilai lebih banyak informasi diperlukan. (dtc/snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *