SNT, Taput – Wakil Bupati Tapanuli Utara (Taput), Sarlandy Hutabarat menjelaskan masih dibutuhkan perjuangan panjang untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Taput, Sumatra Utara.
“Sesuai data stunting nasional angka stunting sebesar 24%. Kabupaten Tapanuli Utara harus bisa berada di bawah angka nasional tersebut,” kata Sarlandy Hutabarat di hadapan peserta rapat bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Taput, di Gedung Kesenian Sopo Partungkoan Tarutung, Kamis (4/8/2022).
Untuk itu, lanjut Wabup Sarlandy, seluruh Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Taput perlu melakukan rembuk untuk menentukan aksi.
“Lokus harus jelas, data personal harus lengkap ‘by name by address’. Dinas terkait juga harus melakukan pendataan yang akurat, jangan ada pembohongan data demi masa depan generasi muda kita. Semua harus sepemahaman apa itu stunting dan apa yang harus dilakukan untuk pencegahan serta penanganan stunting,” tegasnya.
“Rembuk stunting sebagai aksi ketiga saat ini harus kita seriuskan sebagai jawaban atas tantangan yang sedang dihadapi. Penanganan penurunan stunting ini sebagai super prioritas pembangunan nasional karena dinilai menjadi langkah awal bagi masa depan negara kita menjadikan generasi emas,” sambung Wabup Sarlandy Hutabarat.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Taput, Sudirman Manurung menerangkan bahwa saat ini sudah ketiga kalinya dilaksanakan rembuk stunting.
Ia juga melaporkan data berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) bahwa prevalensi stunting tahun 2021 sebesar 26,7%, turun dari SSGI tahun 2019 sebesar 42,19%. Ditargetkan tahun 2022 sebesar 23, 46%.
“Tahun 2023 ditargetkan sebanyak 36 desa yang menjadi lokasi fokus atau lokus stunting,” jelas Sudirman Manurung.
Selanjutnya Wabup Sarlandy yang sekaligus sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Taput bersama perwakilan para undangan menandatangani komitmen bersama aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di daerah itu. (SNT)






