Takut Divonis COVID-19, Nenek 92 Tahun Tak Dibawa ke Rumah Sakit

  • Whatsapp
Hapasia Terbaring di Rumah Anaknya. (Foto: Abdy Febriady/detikcom)

SNT – Nenek Hapasia berusia 92 tahun ini sudah sepekan terbaring di rumah salah satu anaknya. Hapasia merupakan warga Desa Bonne-Bonne, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).

Kondisinya semakin melemah, lantaran sulit mengonsumsi makanan maupun minuman.

Bacaan Lainnya

Menurut pengakuan anaknya bernama Labasa (58), ia tidak dapat berbuat banyak untuk memulihkan kondisi ibunya itu.

Selain karena keterbatasan biaya, Labasa tidak memeriksakan kondisi Hapasia ke rumah sakit karena takut ibunda divonis terpapar virus Corona atau COVID-19.

“Selain karena faktor biaya, kita juga takut Pak, jangan sampai dianggap Corona,” kata Labasa kepada wartawan di rumahnya, kemarin.

Hapasia sebelumnya diketahui tinggal sendiri di rumahnya. Hingga akhirnya dievakuasi ke rumah anaknya, karena kondisinya yang sudah sakit-sakitan.

“Dia lama tinggal sendiri di rumahnya, dia pernah jatuh, hingga membuat kondisinya tidak stabil. Setelah itu dia kami bawa ke sini untuk tinggal bersama,” ucap Labasa yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Kendati tidak memeriksakan kondisi ibunya ke rumah sakit, Labasa berharap, sang ibu tetap mendapat perhatian dari petugas kesehatan.

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Mapilli, H Saldy Kursani mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, penurunan kondisi kesehatan Hapasia diduga karena faktor usia.

Saldy menegaskan, pihaknya rutin berkunjung untuk memeriksa kondisi Hapasia.”Tensinya cenderung tidak stabil, apalagi susah makan, kemungkinan karena faktor usia. Petugas kami rutin berkunjung, memeriksa kondisi pasien,” kata Saldy usai mendampingi dokter Puskesmas Mapilli memeriksa kondisi Hapasia.

Dia juga menyarankan kepada keluarga agar membawa Hapasia ke rumah sakit untuk diperiksa. “Termasuk meminta keluarga membawanya ke rumah sakit, namun keluarga pasien yang berhak memutuskan,” ujarnya.

Saldy bersama tim medis Puskesmas Mapilli juga menyerahkan sejumlah bantuan, untuk meringankan beban Hapasia dan keluarganya.

Dia tetap berharap, pihak keluarga segera membawa Hapasia ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. (dtc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *