Sakke Hudali, Ritual Batak dari Luat Pahae

  • Whatsapp
Sakke Hudali Ritual Batak Dari Luat Pahae
Sakke Hudali Ritual Batak Dari Luat Pahae. (FOTO: Dok_ts)

SNT, Taput – Ritual Batak ini bisa kita saksikan dan memang masih tetap dilakukan secara turun menurun di Luat Pahae, khususnya di Desa Pantis, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara.

Rangkaian ritual seperti ini dilakukan setiap bulan Maret, saat masa tanam padi dilakukan. “Sakke Hudali, menggantungkan atau menyimpan peralatan tani seperti cangkul, setelah masa tanam usai,” ungkap Afdi Roni Tambunan, Kepala Desa Pantis, Minggu (28/3/2021).

Bacaan Lainnya

Budaya ataupun kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang mereka dan kerap dilakukan hingga saat ini yang secara harafiah dimaknai sebagai kegiatan menyimpan alat-alat pertanian setelah masa tanam padi usai dilakukan warga.

Roni Tambunan mengatakan, kegiatan ini juga sebagai wujud rasa syukur atas selesainya melakukan penanaman padi di sawah maupun ladang milik warga desa.

“Sakke hudali diawali dengan pemotongan dan pembagian daging kerbau atau sapi ke masyarakat,” jelasnya sembari mengatakan pemilihan ternak tersebut dilakukan karena masyarakat desa pada umumnya beragama Kristen dan Islam.

Baca Juga: Mr X Ditemukan Tewas di Jalan Lintas Tarutung-Sibolga, Ini Ciri-cirinya

Setelah dibagikan, lanjut Roni Tambunan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Bagi warga beragama Kristen akan melakukan doa bersama di gereja, sementara bagi umat Islam dilaksanakan di masjid setempat.

Tujuannya untuk meminta restu dari Sang Pencipta, agar tanaman padi tersebut menghasilkan panen yang memuaskan.

Baca Juga: Perampok Menyaru Tehnisi Jaringan, Pemilik Rumah Diborgol di Lemari

Esok harinya, kata Roni Tambunan, setiap warga wajib beristirahat total, mirip seperti perayaan Nyepi di Bali.

“Masyarakat “dilarang” melakukan aktivitas pertanian, dan umumnya hanya bercengkerama dengan tetangga,” ungkap Roni sembari mengatakan tujuannya adalah waktu tersebut digunakan untuk mengembalikan energi baru, setelah terkuras saat proses pengolahan lahan dan penanaman bibit padi.

Baca Juga: Kabar Baik, Jokowi Beri Sinyal Dukung Pendirian Untara

Diungkapkan Roni, seluruh kegiatan dilakukan oleh warga desa secara bersama atau gotong royong, termasuk pembelian hewan ternak yang dipotong.

Terpisah, Laskar Merah Putih (LMP) Cabang Taput berharap kearifan lokal ini harus dilestarikan agar tidak hilang terkikis perkembangan zaman.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus bersinergi menggali budaya yang masih bertahan. “Kearifan lokal ini tergolong unik dan menarik, di dalamnya terkandung filosofi kebersamaan dan keberagaman yang menjadi modal kuat bangsa ini dalam menjalin persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Mario Tobing, Wakil Ketua LMP Taput.

Baca Juga: Tegas, Jamaluddin Pohan: Jangan Cuma Rapat, Tindakan Nyata Diperlukan

“Bila perlu, Dinas Pendidikan dan Pendidikan serta Dinas Pariwisata memperkenalkan Desa Pantis sebagai destinasi wisata budaya daerah. Gelaran Sukke Hudali yang berlangsung pada Maret, dikemas kemudian diperkenalkan dan disosialisasikan kepada para pecinta wisata budaya untuk dikunjungi,” harap Mario.

“Hal ini selaras dengan cita-cita LMP sebagai salah satu ormas yang mendukung persatuan dan kebersamaan tanpa memandang Suku, Agama dan Ras, selaras dengan semangat founding father bangsa ini,” ujar Mario didampingi Martua Sitorus yang menjabat sebagai bendahara. (ts)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *